Kecemasan dan pertahanan dengan contoh kasus dalam kehidupan sehari-hari

KECEMASAN DAN PERTAHANAN

Teori Freud tentang kecemasan pertama kali didasari oleh suatu pemikiran berani yang mengungkapkan analogi dari kesamaan respon tubuh selama serangan kecemasan dengan yang terlihat saat berhubungan seksual (palpitasi, nafas berat).

Asal Mula Kecemasan

Freud melihat kecemasan sebagai bagian penting dari sistem kepribadian, hal yang merupakan suatu landasan dan pusat dari perkembangan perilaku neurosis dan psikosis. Freud mengatakan bahwa prototipe dari semua anxietas adalah trauma masa lahir (suatu pendapat yang pertama kali dikemukakan oleh kolega Otto Rank).

 

Kecemasan menurut  Freud

Freud membagi kecemasan menjadi tiga:

1.)   Kecemasan relitas atau objektif

Suatu kecemasan yang bersumber dari adanya ketakutan terhadap bahaya yang mengancam di dunia nyata.Kecemasan seperti ini misalnya ketakutan terhadap kebakaran, angin tornado, gempa bumi, atau binatang buas.

2.)  Kecemasan neurosis

Kecemasan ini mempunyai dasar pada masa kecil, pada konflik antara pemuasan instingtual dan realitas. Kecemasan atau ketakutan untuk itu berkembang karena adanya harapan untuk memuaskan impuls Id tertentu. Kecemasan neurotik yang muncul adalah ketakutan akan terkena hukuman karena memperlihatkan perilaku impulsif yang didominasi oleh Id.

3.)  Kecemasan moral

Kecemasan ini merupakan hasil dari konflik antara Id dan superego.

 

Freud menggambarkan beberapa strategi tambahan yang di namakan mekanisme pertahanan ego. Mekanisme pertahanan yang paling dasar adalah represi, di mana ego menahan impuls yang mengancam atau pikiran yang terlarang agar tidak masuk ke kesadaran tetapi tetap di bawah sadar dari luar tampaknya individu memiliki perbedaan ambang cemas dan pertahanan yang mereka gunakan ambang cemas dan petahanan yang mereka gunakan untuk menangani kecemasan tersebut. Kecemasan dan pertahan merupakan dasar teori freud tentang prilaku maladaptif.

 

 

Contoh kecemasan dan pertahanan dalam kehidupan sehari-hari

Ketika saya masih duduk ditaman kanak-kanak (tk). Ketika itu umur saya kurang lebih baru 6 tahun. Keluarga saya baru saja diberi anugrah dengan hadirnya anggota baru dalam keluarga kecil kami. Seorang adik perempuan. Ketika adik saya masih berusia kurang lebi 6 bulan. Mungkin karena posisi baru memiliki adik baru saya mengalami kecemburuan karena perhatian dan kasih sayang orang tua lebih terfokus kepada adik. Karena marah kurang diperhatikan saya mencubit adik saya sampai menangis. Karena cemas orang tua saya akan marah saya kabur setelah membuat adik saya menangis. Ayah  saya mencari-cari saya kemana-mana. Setiap saya melihat ayah saya saya langsung bersembunyi seperti orang yang bermain petak umpet. Ketika sudah lelah akhirnya saya pulang ketika bertemu kedua orang tua saya karena cemas mereka akan memarahi saya, saya akhirnya menanggis.Image

Tindakan saya ketika kabur karena takut dimarahi oleh orang tua saya menunjukan kecemasan saya setelah melakukan sesuatu, mengekspresikan impuls dalam bentuk yang tersembunyi dapat meghindari hukuman dari orang tua atau celaan dari superego dengan demikian meredakan kecemasan. Kecemasan yang saya alami menurut Freud termasuk kecemasan moral dimana terjadi pertentangan antara implus id dan superego. Dimana setelah saya melakukan sesuatu saya cemas takut mendapat hukuman dari orang tua saya. Dorongan saya mecubit adik saya merupakan dorongan id.

Image

REFERENSI

MajaLAH Kedokteran Indonesia, Volum: 57, Nomor: 7, Juli 2007 “Teori Kecemasan Berdasarkan Psikoanalisis Klasik”

Atkinson, R.L.dkk.”pengantar psikologi”. Jakarta:penerbit erlangga

 

referensi gambar

Perkembangan kepribadian

Freud yakin bahwa individu, selama lima tahun pertama kehidupannya, berkembang melalui beberapa tahap perkembangan yang mempengaruhi kepribadian.  Dengan menerapkan tahap perkembangan yang mempengaruhi kepribadian.  Dengan menerapakan definisi luas dari seksualitas, ia menamakan periode tersebut tahap psikoseksual. Selama tiap tahap, impuls mencari kepuasaan dari id yang berpusat pada bagian tubuh tertentu pada aktivitas yang berhubungan pada daerah tersebut.

Freud menamakan tahun pertama kehidupan sebagai tahap oral dari tahap psikoseksual. Pada tahap ini bayi mulai mendapatkan kenikmatan dari aktivitas menyusu dan memasukkan segala sesuatu yang dapat mereka raih kedalam mulutnya.Image

Pada tahun kedua kehidupan Freud menamakan sebagai awal tahap anal dan percaya bahwa anak menemukan kenikmatan selama waktu ini dalam menahan dan mengeluarkan fases. Kenikmatan ini mendapat konflik dari orang tua yang mengajarkan latihan toilet (toilet training).Image

           latihan ke toilet merupakan salah satu pengalaman pertama

anak denga kendali yang ditentukan dari luar

Pada tahap phalis, kira-kira dari usia 3 sampai 6 tahun, anak memperoleh kenikmatan dari aktivitas memainkan alat kelaminnya. Mereka mengamai perbedaan antara pria adan wanita dan mengarahkan impuls seksualnya kepada orang tua yang berlainan jenis.

Periode laten terjadi setelah tahapan phalis, di mana anak menjadi kurang acuh terhadap tubuhnya dan mengalihkan perhatiannya pada ketrampilan yang dibutuhkan untuk menhadapi lingkungan.zczzzz

Tahap terakhir yaitu tahap genital, tahap ini terjadi pada masa remaja. Remaja mulai mengalihkan minat seksualnya pada orang lain dan mencitainya dengan cara yang lebih matang. Menurut Freud masalah khusus yang timbul pada setiap tahap dapat mengfiksasi perkembangan dan menimbulkan efek yang membekas pada kepribadian seseorang.Image

Dinamika kepribadian

KEKEKALAN ENERGI. Ilmu fisika sangat berhasil dalam abad sembilan belas, dam Freud sanagt dipengaruhi oleh ahli fisika jerman, Hermann von Helmholtz, yang berpendapat bahwa peristiwa fisiologis juga dapat dijelaskan oleh prinsip yang sama dengan yang telah berhasil di dalam fisika. Freud sangat terkesan dengan prinsip kekekalan energi yang menyatakan bahwa energi dapat diubah menjadi bentuk yang berbeda tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan dan ia menyatakan bahwa manusia juga merupakan sistem enrgi yang tertutup. Terdapat energi psikis dalam diri tiap individu, yaang dinamakan oleh freud sebagai libido (bahasa latin untuk nafsu),yang mencerminkan pandangannya bahwa dorongan seksual adalah dorongan utama.

Salah satu akibat wajar dari prinsip kekekalan energi adalah bahwa jika impuls atau tindakan yang dilarang disupresi, energinya akan mencari penyaluran di sistem lain, kemungkinan muncul dalam bentuk tidak pantas. Keinginan id berisi energi psikis yang  harus diekspresikan melalui suatu cara, dan melarang ekspresi tersebut tetapi tidak menghilangkan energi itu. Impuls agresif misalnya, dialihkan ke olah raga baap mobil, permainan catur, atau selera humor yang sarkastik. Mimpi dan gejala neurotik juga merupakan manifestasi dari energi psikis yang dihalangi dari ekspresi langsungnya.

referensi:

Atkinson, R.L.dkk.”Pengantar psikologi”.Jakatra : Penerbit Erlangga.

Atkinson, R.L.dkk.”Pengantar Psikologi Edisi kesebelas jilid dua”.Batam Centre: Interaksara.

referensi gambar:

http://www.googleimage.com

Teori psikoanalitik

TEORI PSIKOANALITIK

SIGMUND FREUD (1856-1939)

Image

SIGMUD FREUD , pencipta teori psychoanalitic, adalah seorang tokoh intelektual yang terkenal di abad dua puluhan. Ia merupakan tokoh pertama dan utama dari teori phychonalitic. Freud memulai karirnya sebagai ahli neurologi, ia mengobati pasien yang mengalami bberbagai gangguan “saraf” dengan menggunakan prosedur kedokteran konvensional. Karena sering mengalami kegagalan, Freud meninggalkan teknik hipnosis. Ia akhirnya menemukan metode asosiasi bebas, di mana pasien diperintahkan bebas untuk mengatakan hal apapun sekecil, maupun sememalukannya hal tersebut Freud menyamakan pikiran manusia seperti gunung es. Bagian kecil yang terlihat di atas permukaan air merupakan pengalaman sadar dan massa yang jauh lebih besar ddi bawah permukaan air adalah bawah sadar, gudang untuk impuls, keingan, dan kenangan dan prilaku manusia .

Image

 

Menurut Sigmund Freud, dasar prilaku adalah insting yang bertempat dalam alam ketidaksadaran. Ketidaksadaran merupakan ciri utama psychoanalitic, khususnya teori yang diajarkan Freud sendiri, yang membedakan teori ini dengan teori psikologi lainya. Ada dua jenis insting, yaitu etos, etos merupakan naluri kehidupan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan individu atau spesies dan tantos yaitu naluri kematian, dorongan untukk menghancuran maniusia yang dinyatakan dalam perkelahian, perang, pembunuhan, sadisme, dan sebagainya. Tetapi Freud menjelsakan bahwa tidak semua naluri atau insting tercetus dalam prilaku. Naluri seks dan agresif selalu bertentangan dengan norma-norma. Oleh karena itu ada mekanism  dalam jiwa atau kepribadian maunisa yang mengendalikan naluri itu.

 

STRUKTUR KEPRIBADIAN

            Menurut teori Freud, ada tiga komponen dalam kepribadian, yaitu id yang selalu berprinsip mau memenuhi kesenangannya sendiri (pleasure principle), ego yang selau berorientasi pada kenyataan (reality), dan superego yang selalu berpatokan pada norma-norma baku(norma standard).

            Id adalah bagian kepribadian yang paling primitif. Id ada pada bayi yang baru lahir dan terdiri dari dorongan(impuls) biologis dasar seperti kebutuhan untuk makan, minum, membuang kotor, menghindari rasa sakit dan memperoleh kenikmatan seksual. Freud yakin bahwa agresi merupakan dorongan biologis dasar. Id menuntut pemuasan impuls dengan  segara. Sepeti anak kecil, Id bekerja dengan prinsip kesenangan (pleasure principle). Id berusaha menghimdari rasa sakit, dan  mengejar kesenangan tanpa mempertimbangkan situsi eksternal. Contoh dari id adalah

            Ego anak-anak belajar bahwa keinginan mereka tidak dapat dipuaskan dengan segera. Rasa lapar dan haus harus menunggu sampai seseorang memberi makanan. Kepuasan setelah melepaskan tekanan dikandung kemih atau di usus setelah tiba di kamar mandi. Ego berkembang ketika anak belajar mempertimbangkan tuntutan realita. Ego mengikuti prinsip realita yaitu pemuasan implus atau keinginan harus ditunda sampai ditemukan situasi yaang tepat. Ego pada dasarnya adalah badan eksekutif kepribadian , ia memutuskan tindakan yang tepat dan impuls id yang dapat dipuaskan dan dengan cara apa pemuasan akan dilakukan. Ego menjadi perantara tunntutan id , realita dan tuntutan superego.

            Bagiam ketiga dari kepribadian adalah superego, yang menilai suatu tindakan benar atau salah. Superego adalah gambaran internalisasi nilai dan moral masyarakat yang diajarkan orang tua dan orang lain. Pada dasarnya superego merupakan hati nurani (conscience) seseorang. Id mencari kesenangaan, ego realistis sedangkan superego berusaha menjadi sempurna. Superego berkembang sebagai respon terhadap  ganjaran dan hukuman orang tua. Superego menggabungkan semua tindakan penyebab anak dihukum atau ditegur dan semua tindakan yang menyebabkan anak diberi ganjaran.

 Image

Image

            Pada mulanya, orang tua mengendalikan perilaku anak secara langsung melalui ganjaran dan hukuman. Dengan adanya penggabungan standar orang tua ke dalam superego, prilaku akan berada di bawah kendali diri. Anak-anak tidak lagi membutuhkan pemberitaorang lain bahwa berbohong itu perbuatan yang salah karenasuperego yang memberi tahu mereka. Pelanggaran terhadap standar superego meskipun impuls memginginkannya, akn timbul kecemasan tentang hilangnya kasih sayang orang tua. Menurut Freud, kecemasan ini karena tidak disadari, emosi yang disadari adalah ras bersalah dan berusaha menghalangi semua impuls agresif dan impuls seksualnya. Sebaliknya orang yang menghambat impuls agresif da seksualnya tidak berhasil menggabungkan standar prilaku sosial yang dapat diterima  tidak akan memiliki banyak kendala perilaku dan bisa terlibat dalam usaha pemuasan diri secara berlebihan atau melakukan perilaku kriminal orang semacam ini dianggap memiliki superego yang rendah.

            Kadang-kadang ketiga komponen kepribadian itu sring bertentangan, ego menunda pemuasan yang dibutuhkan segera oleh id, dan superego menentang id maupun ego karena perilaku seringkali tidak memenuhi nilai nilai moral yang diwakilinya. Tetapi yang lebih sering terjadi padaa orang normal, ketiganya bekerja sama menghasilkan prilaku yang terpadu.

 

Referensi:

Atkinson, R.L.dkk.”Pengantar psikologi”.Jakatra : Penerbit Erlangga.

Atkinson, R.L.dkk.”Pengantar Psikologi Edisi kesebelas jilid dua”.Batam Centre: Interaksara.

Sarwono,S.W.2002.”Psikologi Sosial”.Jakarta:Balai pustaka.